Header Ads

Berita Mahad
recent

Islam Wasathiyah; Identitas Islam Moderat Asia Tenggara


Agama Islam sejak pertama kali masuk hingga pada perkembangannya dewasa ini di kawasan Asia Tenggara, memiliki kekhasan tersendiri jika dibandingkan misalnya dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah. Kekhasan perkembangan Islam itu ditunjukkan antara lain oleh Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Ketiga negara tersebut secara umum tengah menghadapi “perebutan identitas politik” sebagai negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam. Kondisi berbeda terkait perkembangan Islam terdapat di negara-negara kawasan Asia Tenggara yang lain, misalnya di sepanjang semenanjung Indochina dan Filipina, umat Islam di sana tengah melakukan perjuangan untuk dapat dipersepsikan sebagai radikalisme sebagai ideologi yang bersaing dengan ideologi liberal.

Sebagian kecil isu terkait perkembangan Islam di kawasan Asia Tenggara di atas, disikapi dengan perumusan rencana-rencana strategis untuk meningkatkan daya saing umat Islam, serta merumuskan konsep Islam Wasathiyah (Islam moderat) sebagai identitas bersama umat muslim di kawasan Asia Tenggara, dalam menghadapi ancaman radikalisme dan fundamentalisme Islam. Dengan aplikasi Islam moderat sebagai watak keberislaman umat Islam di kawasan Asia Tenggara, diharapkan radikalisme dan fundamentalisme Islam menurun pengaruhnya seiring dengan menguatnya moderatisme dalam berislam. Moderatisme tidak akan menunjukkan ataupun menimbulkan kelemahan pada diri umat muslim, akan tetapi moderatisme justru dapat menjadi sikap yang kuat sekaligus tepat dalam menghadapi radikalisme dan fundamentalisme, bahwa moderatisme adalah sesungguhnya Islam itu sendiri, khususnya ketika berada dalam kehidupan bersama yang bersinggungan dengan urusan umat non muslim.

Tema tentang Islam Wasathiyah sebagai Identitas Islam Moderat Asia Tenggara ini menjadi pembahasan yang hangat dan ditanggapi antusias oleh para peserta Forum Kamisan Dosen PUSAT FISI IPMAFA baru baru ini di IPMAFA (2/11). Diskusi yang dihadiri oleh para Dosen dari berbagai lini keilmuan itu, mengangkat tema pembahasan tersebut dibedah oleh Dr. A. Dimyati, M.Ag—Warek. I, Dosen, sekaligus peneliti PUSAT FISI--yang sebelumnya berkesempatan mengikuti Halaqah Ulama ASEAN (HUA) II di Jakarta. Isu ini menarik bagi PUSAT FISI IPMAFA mengingat Indonesia merupakan salah satu negara ASEAN yang memiliki perkembangan Islam secara progresif, khususnya dalam hal fiqh dan aplikasinya oleh umat Islam di berbagai level. Selain itu, isu ini relevan dengan pengembangan pemikiran fiqh sosial oleh PUSAT FISI yang juga mencakup aplikasi fiqh sosial terhadap isu-isu radikalisme dan fundamentalisme agama. Maka menjadi penting bagi PUSAT FISI untuk mengangkat tema pembahasan tersebut untuk mendapatkan pengayaan perspektif, serta menindak lanjutinya dengan kajian dan penelitian dalam mengembangkan pemikiran fiqh sosial Kiai Sahal.AK

No comments:

Powered by Blogger.